I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
Indonesia merupakan sebuah negara yang mempunyai hutan dengan luasan yang sangat besar. Dalam hutan trsebut terdapat kurang lebih 4000 jenis kayu. Dari julah tersebut diperkirakan terdapat sekitar 400 jenis kayu yang dianggap penting karena telah dimanfaatkan atau secara alami telah terdapat dalam jumlah yang besar. Dari jumlah tersebut hanya sebagian saja yang telah diketahui sifat dan kegunaannya. Sampai sejauh ini kayu yang sudah dikenal dan diperdagangkan atau lebih dikenal dengan kayu komersial berjumlah sekitar 180 jenis saja.
Karena sifat dan kefleksibelan penggunaannya, kayu telah memberikan manfaat yang sangat besar dan tidak ternilai dalam kehidupan manusia. Sehingga walaupun telah banyak ditemukan bahan lain yang dapat mensubstitusi penggunaan kayu, penggunaan kayu masih sulit untuk digantikan. Pemanfaatan kayu antara lain adalah sebagai bahan forniture dan mebel, kayu lapis, papan komposit, pulp dan kertas, bahan bangunan baik struktural atau non-struktural, kayu bakar dll. Selain penggunaan tersebut di atas, kayu juga dapat digunakan untuk pembuatan alat musik seperti gitar, organ, biola dll. alasan kayu sebagai alat musik antara lain karena keunggulan sifat akustiknya.
Dalam pembuatan alat musik khususnya gitar, saat ini banyak digunakan kayu dari jenis Mahoni ( Swietenia spp ), Spruce ( Picea abies ), Maple ( Acer spp ), Sonokeling ( Dalbergia latifolia Roxb ) dll. Namun dengan adanya kelangkaan bahan baku dari jenis – jenis kayu tersebut yang disebabkan laju deforestasi yang sangat besar, maka diperlukan satu jenis bahan lain yang dapat mensubstitusi bahan kayu tersebut dalam pembuatan gitar.
Kelapa merupakan tanaman yang banyak terdapat dan tumbuh di Indonesia. Luas areal kelapa mencapai 3,74 juta hektar atau 27% dari 14,05 juta hektar luas perkebunan di Indonesia. Namun hingga saat ini penggunaan kayu Kelapa masih jarang digunakan walaupun sudah mulai digunakan sebagai kayu konstruksi. Kurangnya pemanfaatan kayu kelapa ini disebabkan adanya anggapan dari masyarakat bahwa kayu kelapa merupakan kayu yang kurang bermutu.
Dengan semakin terbatasnya pasokan bahan baku dari jenis – jenis kayu konvensional dalam pembuatan gitar, diharapkan kayu kelapa dapat dipakai sebagai bahan substitusi. Hal itu disebabkan adanya potensi yang besar dari kayu Kelapa baik dari segi jumlah dan sifat – sifat yang dimilikinya. Diharapkan kayu kelapa dapat dimanfaatkan dalam pembuatan gitar di masa yang akan datang.
Hal – hal tersebut diataslah yang telah melatar belakangi usulan penelitian ini yang bertema “ Kajian tentang Kemungkinan Pemakaian Kayu Kelapa Untuk Bahan Baku Gitar “. Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan diketahui tingkat kelayakan dari kayu Kalapa apabila digunakan sebagai bahan baku pembuatan gitar akustik. Dengan demikian industri alat musik di Indonesia khususnya gitar akustik baik industri besar, menengah atau industri rumah tangga yang selama ini menggunakan kayu jenis Mahoni ( Swietenia spp ), Spruce ( Picea abies ), Maple ( Acer spp ), Sonokeling ( Dalbergia latifolia Roxb ) dll, dapat memanfaatkan kayu Kelapa sebagai altermatif bahan baku dalam proses produksi yang dilakukannya. Selai lebih murah dan mudah didapat, pemanfaatan kayu Kelapa dalam jangka panjang dapat berperan dalam pelestarian sumber daya hutan. Selain itu, pemanfaatan Kayu Kelapa yang selama ini kurang diminati akan semakan bertambah luas.

2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan teknis dari kayu Kelapa sebagai bahan baku pembuatan gitar akustik.

3. Manfaat
a. Memungkinkan pemanfaatan kayu Kelapa sebagai bahan baku alat musik ( diversifikasi manfaat ).
b. Merangsang pertumbuhan industri alat musik terutama gitar akustik, baik industri besar, menengah ataupun industri rumah tangga.
c. Mengetahui kelayakan teknis dari kayu Kelapa sebagai bahan baku pembuatan gitar akustik.

II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Persyaratan Kayu Sebagai Bahan Baku Pembuatan Alat Musik
Menurut Pearson dan Webster ( 1956 ), penggunaankayu sebagai alat musik telah dikenal sejak 2500 SM. Hal ini disebabklan karena kayu memiliki karakter unik dan cocok untuk dijadikan bahan baku pembuatan alat musik berdawai. Selain biola, gitar dan alat musik berdawai lainnya, kayu juga digunakan sebagai papan pengatur suara pada piano, pipa organ dll. Hal ini disebabkan karena kemampuan kayu untuk memancarkan suara melalui getaran ( Kollmann dan Cote, 1958 ). Selain itu, disebutkan bahwa tidak ada bahan lain yang dapat mengalahkan ketelitian kayu baik dari segi kualitas ataupun jenis, yang melebihi kesempurnaan kayu sebgai bahan baku ( Bamber, 1964 ).
Kualitas dari suatu alat musik akan sangat dipengaruhi oleh kayu yang digunakan (Kollmann dan Cote, 1958 ). Selain konstruksi dan proses finishing,fungsi utama dan kualitas pemancaran suara suatu alat musik dipengaruhi oleh keseragaman struktur kayu, kerapatan serta kadar air kayu.
Menurut Brown at al.,( 1952 ),persyaratan kayu sebagai bahan baku adalah jenis kayu yang memiliki perbandingan elastisitas ( kelenturan ) yang tinggi terhadap masa jenis atau kerapatannya, namun demikian, kekuatannyapun sangat penting karena dapat mempengaruhi suara yang dihasilkan.
Bamber ( 1964 ) mengemukakan bahwa kayu Eropa Spruce ( Picea abies ) merupakan kayu yang telah digunakan secara turun – temurun. Jenis lain yang juga banyak digunakan adalah Cemara Rusia dan Cemara Swiss. Kayu lain yang telah diuji dan mendekati kesempurnaan adalah kayu Sitka Spruce ( Picea sitcensis ), White Spruce dll.
Sano ( 2006 ) mengemukakan bahwa kayu Spruce banyak digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan gitar karena kayu Spruce memiliki kekakuan yang tinggi sehingga dapat menghasilkan suara yang baik. Hal ini diperkuat oleh Bucur ( 1995 ) yang menyatakan bahwa kekuan merupakan persyaratan yang penting dari suatu kayu sebagai bahan baku gitar.
Karakter kayu berpengaruh pada kualitas gitar yang dibuat. Karakter tersebut antara lain : kekakuan, rendahnya tingkat pergeseran dalam, kepadatan ( kerapatan ) dan tekstur kayu ( Bucur, 1995 ).
Kayu yang telah dianalisa dikategorikan kedalam tingkat kekakuan, rendahnya pergeseran dalam dan kepadatan ( kerapatan ). Kayu dengan kualitas tinggi diperlukan untuk menghasilkan suara yang baik.
Untuk komponen sisi samping dan sisi belakang dari sebuah gitar, Brasilian rosewood terpilih menjadi kayu terbaik, meskipun diketahui para pembuat gitar juga menggunakan variasi dengan memakai kayu dengan kerapatan yang tinggi.
Untuk menghasilkan gitar dengan kualitas yang baik, biasanya para pembuat gitar menggunakan kayu Spruce untuk bagian depan dari gitar, sedangkan bagian samping menggunakan kayu Rosewood atau kayu mahoni. Selain itu, syarat kayu yang baik untuk bahan baku gitar adalah bebas dari cacat terutama mata kayu dan memiliki struktur atau corak yang indah.
Secara ringkas, bentuk anatomi dan karakter penting dari suatu jenis kayu yang umum digunakan untuk bagian perut gitar adalah berserat panjang, ringan, arah serat lurus, tekstur baik, memiliki susut yang rendah, bebas dari penyakit dan cacat serta kadar air yang sesuai dengan kadar air kesetimbangan. Sedangkan kayu yang akan digunakan untuk bagian samping dari gitar adalah kayu yang memiliki sifat – sifat : lunak tapi padat, bertekstur baik dan stabil. Untuk kayu yang akan digunakan sebagai bagian leher dari gitar adalah kayu yang memiliki kriteria : kuat dan keras serta stabil.
2. Gitar dan Mutu Gitar
Menurut Bacon dan Day ( 1991 ), ada 2 jenis gitar akustik, yaitu gitar flat top dan gitar arc top. Gitar flat top memiliki lubang suara bulat pada bagian atasnya. Umumnya gitar ini menggunakan senar nilon untuk instrument klasik dan dengan menggunakan senar baja ( steel ) untuk gitar folk ( country ). Sedangkan gitar arc top adalah pengembangan lebih lanjut dari gitar flat top yang didesain untuk menambahkan volume suara pada instrument dasar. Bagian – bagian dari gitar adalah terdiri dari leher ( neck ) dan badan gitar ( body ).
Kualitas (mutu ) gitar ditentukan oleh 3 parameter , yaitu resonansi, sustained dan natural.

a. Sifat Akustik atau Sifat Natural
Sifat akustik kayu sangan erat hubungannya dengan alat – alat musik. Sifat akustik menunjukkan kemampuan suatu kayu untuk meneruskan suara. Hal ini erat hubungannya dengan elastisitas kayu. Suatu kayu dapat bergetar bebas dan jika dipukul akan mengeluarkan suara yang tingginya tergantung pada frekwensi alami dari kayu tersebut. Frekwensi ini ditentukan oleh kerapatan, elastisitas dan ukuran dari kayu tersebut. Kayu yang telah kehilangan elastisitasnya misalkan yang terserang jamur, jika dipukul akan memberikan suara yang keruh, sedangkan kayu yang sehat suaranya akan terdengar nyaring.
b. Sifat Resonansi
Sifat resonansi kayu yaitu turut bergetarnya kayu dengan adanya gelombang suara. Karena kayu memiliki sifat elastis, maka kualitas nada yang dikeluarkan kayu akan sangat baik. Oleh sebab itu, banyak kayu yang dipakai untuk alat – alat musik, seperti gitar, piano, biola dll.
c. Sifat sustained
Sustained berkaitan dengan ukuran kemampuan kayu untuk menghasilkan nada yang panjang dan bergema. Hal ini tergantung pada kemampuan kayu untuk dapat bergetar sepanjang mungkin.
3. Gambaran Umum tentang Kayu Kelapa
Menurut Joseph (1987) dalam Joseph dan Kindangen (1993), batang kelapa (Cocos nucifera L.) diklasifikasikan sebagai High Density Wood dan Medium Density Wood (BJ 0,8 – 0,9), sehingga digolongkan sebagai kayu kelas 2 dan 3. Di samping itu, batang kelapa memiliki garis serat yang memberikan nilai estetika tersendiri dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Dengan demikian, batang kelapa dapat diandalkan dalam mensubstitusi kayu untuk keperluan industri bahan bangunan, perabotan dan lain-lain. Secara keseluruhan batang kelapa digunakan sebagai: (a) bahan bangunan berupa tiang, kasaw, balok, bingkai jendela/pintu, kayu lapis, papan dan tegel; (b) perabot rumah tangga berupa kursi, rak meja dan lemari; (c) gagang/alat perkakas berupa gagang palu, gergaji, kapak, pisau, dan pengetam; (d) kerajinan; serta (e) sumber energi alternatif berupa arang dan arang aktif.
Batang kelapa mempunyai kekuatan yang berbeda pada seiap bagian. Umumnya bagian tepi lebih keras dibandingkan bagian tengah. Faktor tersebut disebabkan karena adanya sel-sel pembuluh yang berkelompok yang disebut Vascular Bundles. Vascular Bundles menyebar lebih rapat pada bagian tepi dibandingkan bagian tengah. Dinas Perkebunan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah (1993) menambahkan bahwa kayu kelapa mempunyai kekuatan ynag berbeda yaitu keras di bagian tepi dan lebih lunak pada bagian tengahnya. Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya sel-sel pembuluh yang berkelompok yang disebut vascular bundles. Semakin tinggi kedudukan batang dari permukaan tanah, kekerasannya semakin berkurang.
Menurut Dirjen Perkebunan (1991) dalam Joseph dan Kindangen (1993), program pengembangan kelapa melalui kegiatan peremajaan, dipindahkan mengganti tanaman kelapa tua atau tanaman tidak produktif. Secara keseluruhan areal tanaman kelapa tidak produktif kurang lebih seluas 240.908 ha dengan tingkat populasi 100 pohon/ha, maka akan diperoleh sekitar 24.090.800 batang kelapa. Dari jumlah tersebut, yang layak dijadikan kayu gelondongan efektif sekitar 15.659.020 m3, dan sisanya 7.949.964 m3 kayu lunak. Dinas Perkebunan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah (1993) menyatakan bahwa setiap batang kelapa dapat menghasilkan volume kayu sebanyak 1 m3 untuk pembuatan kayu gergajian, batang kelapa hanya efektif 14 m dan menghasilkan 0,65 m3 bagian keras dan 0,33 m3 bagian lunak. Thampan (1981) dalam Dirjen Perkebunan (1991) mengemukakan bahwa diameter batang kelapa berkisar 30 – 40 cm. Pembentukan batang kelapa bersamaan dengan daun. Pertumbuhan akar terhenti bila batang kelapa mencapai ketinggian rata-tara 20 m walaupun ada tanaman kelapa yang mencapai tinggi 35,7 m.

III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
Bahan utama yanga digunakan dalam penelititan ini adalah kayu kelapa. Sedangkan bahan lain yang digunakan adalah plastik, bahan poles, cat, dan logam. Peralatan yang digunakan adalah : gergaji, serutan, bor, amplas ( amplas tangan maupun amplas mesin, kikir , cetakan, alat tekan ( press ), jepitan, pisau dan alat tulis.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di PT. Musika Guitar Audio, sebuah perusahaan semi rumah tangga yang bergerak dibidang pembuatan gitar baik gitar akustik ataupun gitar elektrik dan beralamat di Jl. Teratai no. 12 Jombang Jawa Timur. Waktu pelaksanaan penelitian adalah 3 bulan terhitung dari Mei – Juli 2006 dengan rincian pengambilan data selama dua bulan dan pengolahan data selama satu bulan.
C. Metode Penelitian
Metode penelitian kajian pembuatan gitar akustik ini dirumuskan ke dalam 4 tahap kegiatan , yaitu :
1. Penetapan jenis kayu substitusi
Penetapan jenis kayu substitusi dilakukan berdasarkan kajian pustaka dan studi literatur, hal ini terkait dengan keterbatasan dan upaya penghematan penelitian. Pemilihan jenis kayu yang digunakan juga dimaksudkan untuk menemukan jenis kayu lokal yang sangat berpotensi namun belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembuatan gitar akustik
2. Pengukuran Sifat Fisik Kayu
Pengukuran sufat fisik dilakukan hanya sebagai pelengkap dari pustaka yang ada. Sifat yang diukur adalah :
a. kerapatan dan berat jenis kayu
Contoh uji kerapatan dan berat jenis kayu dibuat sebanyak 3 buah dengan ukuran 2 x 2 x3 cm berdasarkan British Standart Methods of Testing Small Clear Specimens of Timber ( B.S. 373 – 1957 ) tentang pengujian contoh kecil bebas cacat. Contoh uji ditimbang dan diukur panjang, lebar dan tebalnya untuk mendapatkan berat kering udara. Selanjutnya dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 103 + 2o C. contoh uji tersebut dimasukkan ke dalam desikator dan ditimbang. Langkah tersebut diulangi sampai diperoleh berat konstan dan nilai berat ini dianggap sebagai berat kering tanur. Nilai kerapatan ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut ;

Kerapatan = Berat Kering Udara (g)
Volume kering udara (cm3)

Sedangkan nilai dari berat jenis dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Berat Jenis = Berat kering tanur (g ) / volume kering udara ( cm3)
Kerapatan Benda Standar ( g / cm3 )

dimana : kerapatan benda standar = kerapatan air = 1 g / cm3
b. kembang susut
(1). Penyusutan
Contoh uji susut kayu dibuaat dengan ukuran 5 x 5 x0,5 cm berdasarkan American Standart for testing and Materials (ASTM ) D 143 – 94 tentang pengujian contoh kecil bebas cacat.
Susut yang dihitung adalah susut dimensi dari kondisi kering udara hingga kondisi kering tanur. Kondisi pada saat kering udara diukur, setelah itu kondisi pada saat kering tanur juga diukur ( pada saat contoh uji telah mengalami berat konstan ). Besarnya susut dimensi dapat diukur dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
Susut Dimensi ( % ) = Dimensi awal ( cm ) – Dimensi akhir ( cm ) x 100%
Dimensi awal ( cm )

(2). Pengembangan
Contoh uji yang digunakan adalah contoh uji yang dilakukan sebelumnya untuk mengukur susut kayu. Dimensi kayu pada saat kering tanur dianggap sebagai kondisi awal contoh nuji pengembangan kayu. Contih uji tersebut direndam dalam air selama + 48 jam , kemudian contoh uji tersebut diukur kembali untuk mendapatkan dimensi akhirnya. Besarnya pengembangan dapat diukur dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
Pengembangan ( % ) = Dimensi akhir ( cm ) – Dimensi awal ( cm ) x 100%
Dimensi awal ( cm )
c. Kadar Air
Contoh uji kadar air awal dibuat sebanyak 3 buah dengan ukuran 2 x 2 x3 cm berdasarkan British Standart Methods of Testing Small Clear Specimens of Timber ( B.S. 373 – 1957 ) tentang pengujian contoh kecil bebas cacat.
Pada tahap pengujiannya, contoh uji ditimbang untuk mendapatkan berat awalnya. Setelah ditimbang, contoh uji dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 103 + 3 oC. lalu dimasukkan kedalam desikator dan ditimbang. Langkah tersebut diulangi sampai diperoleh berat konstan yang diuanggap sebagai berat kering tanur. Kadar air dari contoh uji dapat diketahui dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Kadar Air ( % ) = Berat awal (g) – Berat kering tanur (g) x 100%
Berat kering tanur (g)
d. Kekakuan
Pengujian kekekuan dilakukaan dengan pembebanan terpusat pada titik tengah bentang balok. Posisi balok dalam keadaan horizontal, beban diberikan dari atas tegak lurus dengan sumbu memanjang balok.
Kekakuan balok laminasi diperoleh melalui rumus :

Di mana: ∆P = beban pada daerah proporsi (kg)
l = jarak sangga (cm)
∆d = defleksi yang terjadi
B = lebar contoh uji (cm)
h = tebal contoh uji (cm)

e. Uji Keteguhan Lentur
Pengujian keteguhan lentur merupakan kelanjutan dari pengujian kekakuan sampai contoh uji mengalami kerusakan (patah). Pengujian ini dilakukan dengan pembebanan terpusat. Kekuatan lentur diperoleh dengan rumus :

MOR = 3PL ( kg/cm2)
2bh3

Di mana: P = beban pada saat kayu rusak (kg)
L = jarak sangga (cm)
b = lebar contoh uji (cm)
h = tebal contoh uji (cm)
f. Kekerasan
Uji kekerasan dilakukan untuk mengetahui tingkat kekerasan dari suatu jenis kayu. Tingkat kekerasan diukur dengan menggunakan UTM merk AMSLER. Pengujian dilakukan dengan menekan kayu dengan bola baja sampai setengah dari bola baja terbenam dalam kayu. Kekerasan dari suatu kayu dapat diukur dengan menggunakan rumus :
H = P
A
Dimana : H = kekerasan kayu ( kg/cm2)
P = beban maksimun samapai ½ bola baja terbenam ( kg )
A = luas bidang ½ bola baja terbenam ( cm2 )

3. Pembuatan Gitar
setelah menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan, tahapan – tahapan yang digunakan pada pembuatan gitar akustik adalah :
a. Pembuatan Bagian Leher Gitar ( neck )
Bahan baku awal yang digunakan untuk pembuatan neck ( leher gitar ) adalah kayu yang berupa balok./ nantinya bagian ini akan dilengkapi dengan machine head, truss rod cover, nut blank, finger board ( papan pencet ) , fretwire, position dots, truss rod slot serta truss rod. Tahapan pengerjaan leher gitar adalah sebagai berikut :
1. Bagian leher disambung dengan bagian kepala ( untuk mendapatkan kekuatan yang optimal dan efisiensi bahan baku )
2. Bagian bawah leher disambung dengan 3 buah balok kecil yang nantinya akan berfungsi sebagai penyambung antara neck dengan body. Kemudian ditekan dengan menggunakan kunci F dan kunci C sambil direkat sampai lem mongering ( sekitar 3 jam )
3. Pembuatan bagian truss rod slot pada bagian neck dengan menggunakan kikir dan palu dengan ukuran yang sesuai dengan truss rod itu sendiri.
4. Meletakkan truss rod pada truss rod slot dan diberikan lem secukupnya.
5. Truss rod ditutup dengan menggunakan kayu dengan ukuran yang sesuai sampai rata dengan permukaan , kemudian dilem.
6. Pembentukan kontur neck dengan menggunakan kikir, palu dan serut rotan.
7. Pembuatan papan pencet ( finger board )
8. Pemberian tanda pada papan pencet dengan gergaji untuk penempatan lidi logam yang ukurannya telah ditentukan.
9. Pembuatan lubang untuk position dots dengan gergaji di tempat yang telah ditentukan.
10. Penggabungan bagian neck dengan finger board menggunakan lem sampai kering.
11. Pada bagian neck ditempelkan kayu yang nantinya akan berfungsi sebagai pengait antara neck dan body.
12. Pembuatan lubang untuk machine head dengan menggunakan bor.
13. Pemasangan position dots pada tempat yang telah ditentukan.
14. Pemasangan lidi logam pada tempat yang telah dibuat dengan menggunakan palu plastik.
15. Neck diamplas.
16. pemasangan nut blank.
17. Pemasangan machine head.
18. Pemasangan truss rod cover.
Tiga tahapan terakhir dilakukan setelah dilakukan proses pengecatan.

b. Pembuatan Bagian Badan Gitar ( Body )
Tahapan pembuatan badan ( body ) gitar meliputi langkah – langkah sebagai berikut :
1. Bagian samping diamplas dengan menggunakan amplas mesin.
2. Dengan menggunakan cetakan yang sudah ada, bagian samping ditekan dengan menggunakan kunci F sampai benar – benar mengikuti bentuk dari cetakan tersebut.
3. Dua bagian samping disambung dengan menggunakan balok kecil (end block ) dengan perekat, setelah ukurannya benar – benar pas.
4. Dua bagian samping dilem pada bagian front block .
5. Pemasangan bagian lining pada bagian samping dengan bantuan jepitan dan lem secukupnya.
6. Pembuatan rangka pada bagian belakang.
7. Penyambungan antara bagian belakang dengan bagian samping.
8. Pembuatan rangka pada bagian depan.
9. Penyambungan antara bagian depan dengan bagian samping.
10. Triming dengan menggunakan mesin untuk tempat list.
11. Pemasangan list pada bagian depan dan belakang.
12. Pembuatan lubang suara.
13. Pengamplasaan.
14. Pemasangan Bridge, bridge pins dan saddle.
15. Pemasangan strap peg.
Dua tahapan terakhir Pemasangan Bridge, bridge pins , saddle dan strap peg ) dilakukan setelah proses pengecatan.

C. Evaluasi Mutu atau Kualitas Gitar
Setelah proses pembuatan gitar secara keseluruhan telah selesai, maka dilakukan evaluasi mutu gitar yang telah dihasilkan. Mutu gitar ditentukan berdasarkan kualitas bunyi ( suara ) yang dihasilkan, yaitu dengan melakukan penilaian terhadap beberapa parameter, diantaranya resonansi, sustained dan natural. Mutu gitar tadi kemudian dibandingkan dengan mutu gitar buatan produsen ( kedua buah gitar yantg diperbandingkan merupakan gitar dengan bahan baku yang berbeda ). Evaluasinya dulakukan dengan menggunakan kusioner yang akan diisi oleh responden terpilih yang datanya kemudian diolah.
Respondenn yang akan memilih kualitas gitar akan dibagi dalam 5 kelompok yang berbeda. Kelima kelompok tersebut adalah :
1. Siswa Sekolah Musik
2. Siswa Sekolah Menengah Umum ( SMU )
3. Mahasiswa
4. Musisi
5. Umum
Jumlah responden yang akan menilai kualitas gitar yang dihasilkan adalah 20 orang untuk masing – masing kelompok, sehingga jumlah total responden adalah 100 responden. Contoh tabel pengisian responden dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Tabel Contoh Kuisioner yang digunakan dalam menentukan kualitas gitar yang dihasilkan.
Gitar kayu kelapa Gitar produsen

Resonansi B
Resonansi B
S S
K K

Sustained B
Sustained B
S S
K K

Natural B
Natural B
S S
K K

Keterangan : B : Baik
S : Sedang
K : Kurang
Selain meggunakan kusioner seperti di atas, sebagai data penunjang juga digunakan pengujian terhadap gitar yang dihasilkan dengan menggunakan alat sebagai berikut :
1. Pengujian sifat Sustained dengan menggunakan alat berupa Stop watch dan stetoskop. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kekuatan kayu untuk mempertahankan suara yang dihasilkan oleh gitar selama mungkin.
2. Pengujaian dengan menggunakan Sound Level Meter untuk mengetahui tingkat kekuatan suara yang dihasilkan oleh gitar. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kayu untuk mempertegas suara.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Sifat Fisik Kayu
1. Kerapatan dan Berat Jenis
Nilai kerapatan dan berat jenis dari batang kelapa yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar …….g/cm3 dan ….. Nilai kerapatan dan berat jenis dari batang kelapa yang digunakan lebih……….dari nilai yang terdapat dalam literatur.
2. Kembang Susut
Nilai pengembangan dari batang Kelapa yang digunakan dari keadaan kering udara hingga keadaan kering tanur adalah ……..
Nilai pengembangan dari batang Kelapa yang adalah bernilai sebesar………
3. Kadar Air
Nilai kadar air dari batang Kelapa yang digunakan adalah sebesar…..%
4. Kekakuan
Nilai kekakuan atau Modulus of Elasticity ( MOE ) dari batang Kelapa yang digunakan adalah……
5. Uji Keteguhan Lentur
Nilai keteguhan lentur atau Modulus of Rapture ( MOR ) dari batang kelapa yang digunakan adalah…
6. Kekerasan
Nilai kekerasan dari batang kelapa yang digunakan adalah……
B. Pembuatan Gitar
Proses pembuatan gitar dalam penelitian ini dilakukan secara manual. Hal ini disebabkan perusahaan pembuatan gitar yang digunakan sebagai tempat penelitian merupakan perusahaan yang berskala kecil.
Bentuk dan ukuran gitar yang dipakai dalam pembuatan gitar pada penelitian ini adalah bentuk dan ukuran standar yang biasa diproduksi oleh PT. Musika Guitar Audio.
1. Persiapan Bahan Baku
Pembuatan gitar diawali dengan penyiapan bahan baku Kelapa. Kayu kelapa didapatkan dari Ds. Sendangrejo, Kec. Ngimbang, Kab. Lamongan, Jawa Timur. Setelah pohon kelapa ditebang, selanjutnya batang kelapa dibelah sampai berbentuk papan – papan tipis dengan ukuran 60 x 15 x 0,5 cm. Setelah itu papan – papan yang telah dihasilkan dikeringkan udarakan dengan cara diangin- anginkan dengan bantuan kipas angin.
Setelah papan – papan Kelapa tersebut kering, kegiatan selanjutnya adalah proses penipisan papan agar papan tersebut mencapai ketebalan + 3 mm. Prosees penipisan papan ini menggunakan alat berupa ketam elektrik. Setelah papan tersebut selesai dikerjakan, maka papan – papan tersebut telah siap digunakan sebagai bahan baku pembuatan gitar akustik.
2. Bagian Badan Gitar
a. Lining, adalah proses penggabungan bagian atas gitar dengan bagian belakang gitar. Kegiatan ini dilakukan dengan bantuan alat cetak yang terbuat dari besi. Kegiatan lining ini dapat dikatakan sebagai kegiatan pembentukan badan gitar.
b List, merupakan bahan yang berfungsi sebagai pelindung sambungan pada badan gitar dan memberikan nilai estetika pada gitar. List dapat terbuat dari bahan kayu, mika, dan lain – lain.
c End block, merupakan rangka dari badan gitar yang terletak di dalam badan gitar. End block berfungsi untuk membuat sambungan yang stabil antara bagian depan gitar ( sound board ), samping ( Rib ) dan belakang gitar ( Back ).
d Strap peg, terbuat dari bahan yang kuat seperti logam yang berfungsi sebagai pengait strap.
e Bridge, merupakan salah satu bagian gitar yang berfungsi sebagai dudukan bagian pangkal senar sekaligus untuk penyelaras nada. Bridge terbuat dari kayu yang telah dibentuk sedemikian rupa.
f Bridge pins, terbuat dari plastik yang berfungsi untuk menahan bagian pangkal senar yang ditancapkan pada bridge. Dengan kata lain bagian ini berfungsi sebagai pemegang senar.
g Saddle, bahan ini terbuat dari plastik, logam, tulang atau gading. Berfungsi sebagai penyelaras nada dan mengatur tinggi rendahnya senar pada permukaan papan pencet ( fret ).
h Bagian depan gitar ( sound board ), biasanya terbuat dari kayu yang dapat beresonansi dengan baik. Kayu yang biasanya digunakan sebagai bahan baku dari bagian depan suatu gitar adalah jenis Mahoni ( Swietenia spp ), Spruce ( Picea abies ), Maple ( Acer spp ), Sonokeling ( Dalbergia latifolia Roxb ) dll. Ukuran tebal dari bagian ini adalah + 3 mm. Fungsi utama dari bagian ini adalah untuk menghasilkan resonansi suara. Secara umum, bagian depan inilah yang akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas suara yang dihasilkan oleh gitar.
i Bagian belakang ( Back ), karakteristik kayu yang dipergunakan untuk bagian belakang dari gitar secara umum memiliki sifat – sifat yang sama dengan bagian depan dari suatu gitar yaitu dapat menghasilkan resonansi yang tinggi dan dapat memantulkan suara. Ukuran tebal dari bagian belakang ini adalah + 3 mm.
j Bagian samping / Side ( Rib ), bagian ini dapat menggunakan kayu dari jenis apapun dan biasa disebut dengan istilah Bass wood. Bagian inilah yang berpengaruh terhadap bentuk dan model tabung gitar yang dibuat ( memberikan bentuk pada gitar ). Ukuran tebal dari bagian ini adalah + 3 mm. Dalam pembentukan gitar, bagian ini dilunakkan dengan cara dicelupkan dalam air kemudian dibentuk dengan menggunakan cetakan dengan cara pemanasan.
k Lubang suara, merupakan bagian yang berfungsi sebagai sarana keluar masuknya suara dari perut gitar. Dengan adanya lubang suara ini maka suara yang dihasilkan oleh gitar akan terdengar dengan keras dan jelas. Bentuk dan ukuran lubang suara ini bervariasi sesuai dengan kreatifitas dan ciri khas dari masing – masing pembuat gitar.
l Senar, berfungsi untuk menggetarkan bagian atas dari gitar agar terjadi resonansi dan menghasilkan suara. Senar biasanya terbuat dari baja yang telah dilapisi dengan nikel. Untuk menghasilkan suara dan kontrol yang baik, maka letak senar harus sedekat mungkin dengan papan pencet.
3. Bagian Leher Gitar
a. Kepala Gitar ( Head stock ), merupakan bagian dari leher gitar yang perfungsi sebagai dudukan dari kepala mesin ( Machine head ) atau yang biasa disebut dengan Delayer. Pada umumnya bagian dibuat menyatu dengan bagian dari leher gitar, namun ada pula yang merupakan sambungan dengan kayu lain.
b. Kepala mesin ( Machine head ), merupakan bagian gitar yang berfungsi untuk mengatur tegangan senar pada gitar dengan tujuan memperoleh frekwensi nada yang diharapkan pada masing – masing senar. Pada umumnya bagian ini terbuat dari logam, plastik ataupun gading.
c. Nut blank, merupakan bagian yang berfungsi sebagai dudukan senar dan mengatur ketinggian senar pada papan pencet. Biasanya bagian ini terbuat dari plastik, plastik, gading, besi dan lain – lain.
d. Finger board ( Papan pencet ), berfungsi sebagai dudukan fret dan untuk mencari tempat nada. Papan pencet biasanya terbuat dari kayu Mahoni atau Sonokeling. Ukuran papan tebal papan pencet adalah + 4 mm, panjang + 455 mm dan ukuran lebar bervariasi antara 45 mm sampai dengan 55 mm. Papan pencet yang telah melekat dengan bagian lher gitar tidak boleh mengalami kebengkokan untuk menjaga agar suara dan nada yang dihasilkan oleh gitar tidak sumbang ( fals ).
e. Fret wire ( Lidi logam ), merupakan bagian dari leher gitar yang berfungsi untuk pengatur frekwensi nada yang dihasilkan oleh senar ( tangga nada atau perubahan suara ), lidi logam dipotong dengan ukuran panjang sesuai dengan ukuran lebar dari bagian papan pencet dan diletakkan dalam slot – slot yang telah dibuat pada papan pencet. Permukaan lidi logam yang berderet dari atas ke bawah harus sama agar tidak menghasilkan suara yang tidak diinginkan pada saat gitar dimainkan. Jumlah lidi logam yang dipasang pada gitar bervariasi antara 21 – 24 buah. Jarak antar lidi logam yang dipasang harus sesuai dengan standar yang telah ada agar frekwensi nada yang dihasilkan sesuai dengan tangga nada yang sudah baku.
f. Position dots. Berfungsi sebagai pemberi tanda letak titik dari suatu Chord. Position dots biasanya terbuat dari bahan plastik phospor. Keberadaan dari position dots tidak mutlak harus ada pada sebuah gitar karena sifatnya hanya sebagai penunjuk letak suatu chord saja. Cara pemasangan position dots adalah dengan cara membor fret board sesuai dengan ukuran position dots dan kemudian pemasangan dilakukan dengan cara dipukul dengan menggunakan palu plastik.
g. Lubang Truss rod, merupakan bagian yang berfungsi sebagai tempat truss rod yang terletak pada bagian dalam dari Neck gitar.
h. Truss rod, merupakan bagian yang berfungsi sebagai penguat Neck agar tidak mengalami kebengkokan akibat dari tarikan yang disebabkan tarikan senar. Truss rod biasanya terbuat dari bahan baja atau besi. Truss rod ada yang hanya berupa logam panjang ada pula yang telah dimidifikasi agar dapat diatur tingkat kelurusannya.
i. Font block, berfungsi untuk menghubungkan antara neck dengan badan gitar. Bagian ini biasanya terbuat dari kayu yang sama dengan kayu yang digunakan sebagai bahan baku neck gitar.
4. Pengerjaan Akhir ( Finishing )Gitar
Pengerjaan akhir dari kegiatan pembuatan gitar ini adalah proses pengecatan badan gitar itu sendiri. Kegiatan awal yang dilakukan adalah penentuan warna yang akan digunakan. Kegiatan pewarnaan ini akan merubah tampilan dari gitar yang dihasilkan. Fungsi dari cat yang digunakan selain untuk memberikan nilai estetika dari gitar juga digunakan sebagai bahan pengawet dari kayu yang digunakan.
Kayu akan menghasilkan nilai estetika yang tinggi apabila difinishing dengan menggunakan warna transparan karena akan menampakkan serat – serat kayu. Namun karena faktor tingkat kesulitan penipisan kayu kelapa yang tinggi sehingga menyebabkan adanya tambalan dengan menggunakan dempul, maka pemilihan warna yang digunakan tidak menggunakan warna transparan dengan tujuan menutup tambalan dempul pada badan gitar.
Bahan – bahan yang digunakan pada saat pengecatan gitar yang dibuat adalah sebagai berikut :
a. Sanding Sealer atau wood filler.
b. Cat dasar.
c. Cat akhir.
Fungsi dari wood filler adalah untuk menutupi pori – pori kayu yang akan dicat. Sedangkan fungsi dari cat dasar adalah untuk mengisi bagian pori – pori kayu yang belum terisi oleh wood filler dan mempersiapkan dasar ( cat ) yang rata untuk cat akhir di atasnya. Salah satu kriteria dari cat dasar adalah mudah diamplas dan mudah dibuat rata.
Setelah pemberian cat dasar selesai, maka kegiatan elanjutnya adalah kjegiatan pengecatan dengan menggunakan cat akhir. Adapun fungsi dari cat akhir adalah :
a Memberikan penampilan akhir yang berhubungan dengan tingkat kekilapan dan warna yang dikehendaki.
b Memberikan perlindungan terhadap keseluruhan hasil finishing ( produk menjadi tahan gores, tahan air, dan lain – lain )

C. Hasil Penilaian Suara Yang Dihasilkan
Gitar yang telah dibuat selanjutnya dilakukan pengujian dengan bantuan responden dengan cara membandingkan dengan gitar biasa ( gitar yang dibuat dengan menggunakan kayu yang lazim digunakan sebagai bahan baku gitar ). Adapun data lengkap dari hasil perbandingan gitar yang telah dibuat disajikan pada tabel.2
Tabel.2. Jumlah dan Sebaran Responden Dalam Menentukan Kualitas Gitar Bahan Baku Kayu Kelapa ( Cocos nucifera L ) dan Gitar Produsen

no Kelompok
Responden Gitar Kualitas Suara
Resonansi Sustained Natural
B S K B S K B S K
1 SMU Gitar A
Gitar B 7
10 9
10 4
0 8
10 10
7 2
3 7
8 12
11 1
1
2 Mahasiswa Gitar A
Gitar B 11
10 3
6 6
4 7
9 9
8 4
3 11
10 6
9 3
1
3 Umum Gitar A
Gitar B 7
10 8
7 5
3 4
5 12
13 4
2 10
11 8
7 2
2
4 Musisi Gitar A
Gitar B 13
11 6
7 1
2 9
10 8
9 3
1 12
13 6
6 2
1
5 Sekolah
Musik Gitar A
Gitar B 11
13 8
6 1
1 10
12 9
8 1
0 12
14 7
6
1
0

Keterangan : B = Baik
S = Sedang
K = Kurang
Gitar A = Gitar Kayu Kelapa
Gitar B = Gitar Produsen
Berdasarkan tabel penilaian dari responden di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penilaian kualitas suara gitar yang dihasilkan adalah berbeda tergantung dari kelompok responden yang menilai kualitas dari gitar itu sendiri.
Untuk responden dari kelompok siswa SMU, gitar dengan bahan baku kayu kelapa memiliki tingkat resonansi sedang sampai baik. Sedangkan gitar produsen memiliki tingkat resonansi baik. Untuk tingkat sustainned, gitar dengan bahan baku kayu kelapa dapat dikategorikan dalam kualitas sedang, demikian pula untuk gitar produsen yang memiliki kualitas sedang. Sedangkan untuk sifat natural, gitar dengan bahan baku kayu kelapa memiliki kualitas yang sedang sampai baik, sedangkan untuk gitar produsen memiliki sedang. Dengan demikian, kelompok responden dari kelompok siswa SMU menyatakan bahwa kualitas gitar dengan bahan baku kayu Kelapa dan gitar Produsen memiliki kualitas yang tidak berbeda jauh gitar buatan produsen, namun gitar buatan produsen memiliki kualitas yang sedikit lebih baik dari gitar dengan bahan baku kayu Kelapa.
Kelompok responden Mahasiswa memberikan penilaian yang berbeda dengan siswa SMU, dimana gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki tingkat resonansi yang baik, sedangkan gitar produsen memiliki tingkat resonansi sedang. Untuk nilai Sustained dari gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas sedang dan gitar produsen memiliki kualitas baik. Sedangkan untuk penilaian sifat natural, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas yang baik, demikian pula dengan gitar produsen. Dengan demikian, kelompok responden mahasiswa menilai bahwa gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki tingkat resonansi yang lebih baik dari gitar produsen. Untuk sifat sustained, gitar produsen memiliki kualitas yang lebih baik dari gitar dengan bahan baku kayu Kelapa. Sedangkan untuk sifat natural, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas yang sama dengan gitar produsen.
Untuk kelompok responden Umum, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki tingkat resonansi sedang, sedangkan gitar produsen memiliki tingkat resonansi yang baik. Untuk penilaian sustained, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas sedang, demikian pula dengan gitar produsen. Sedangkan untuk penilaian sifat natural, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas baik, demikian pula dengan gitar produsen. Dengan demikian, kelompok responden umum menilai bahwa kualitas suara yang dihasilkan oleh gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas yang tidak berbeda dengan gitar produsen. Hanya saja kualitas resonansi dari gitar produsen sedikit lebih baik dari gitar dengan bahan baku kayu Kelapa.
Kelompok responden Musisi memberikan penilaian bahwa gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki nilai resonansi yang baik, sedangkan gitar produsen memiliki kualitas resonansi yang baik. Sedangkan untuk nilai sustained, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas sedang sampai baik, demikian pula dengan gitar produsen. Sedangkan untuk sifat natural, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas yang baik, demikian pula dengan gitar dengan produsen. Dengan demikian, menurut kelompok responden musisi, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda, namun gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kemampuan beresonansi yang sedikit lebih baik dari gitar produsen.
Untuk kelas responden terakhir yaitu kelaompok responden siswa sekolah musik, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas yang baik, demikian pula dengan gitar produsen. Untuk sifat sustained, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas baik sampai sedang, sedangkan gitar produsen memiliki kualitas baik. Untuk sifat natural, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa dan gitar produsen memiliki kulitas yang baik. Dengan demikian, menurut kelompok siswa sekolah musik, gitar dengan bahan baku kayu kelapa dan gitar produsen tidak berbeda jauh kulitas suaranya. Hanya saja gitar produsen memiliki sustained yang sedikit lebih baik dari gitar dengan bahan baku kayu Kelapa.
Berdasarkan hasil rekap data yang telah didapatkan dari responden, dapat disimpulkan bahwa gitar dengan bahan baku kayu kelapa dan gitar produsen memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda. Dari data yang didapatkan dapat pula disimpulkan bahwa pada umumnya responden menilai gitar dengan bahan baku kayu Kelapa dan gitar produsen memiliki resonansi yang baik. Untuk sustained, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas sedang sampai baik, sedangkan gitar produsen memiliki kualitas yang baik. Untuk sifat natural, gitar dengan bahan baku kayu Kelapa dan gitar produsen memiliki kualitas baik.
Apabila hasil penilaian dari ke-5 kelompok responden tersebut digabungkan menjadi satu, maka nilai total pengujian dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3. Jumlah dan Sebaran Responden Gabungan Penentuan Kualitas Suara Giter Dengan Bahan Baku Kayu Kelapa dan Gitar Produsen

Gitar A Gitar B

Resonansi B 49
Resonansi B 54
S 34 S 36
K 17 K 10

Sustained B 38
Sustained B 46
S 48 S 45
K 14 K 9

Natural B 52
Natural B 56
S 39 S 39
K 9 K 5
Keterangan : B = Baik
S = Sedang
K = Kurang
Gitar A = Gitar Kayu Kelapa
Gitar B = Gitar Produsen

Berdasarkan tabel di atas, pada umumnya responden menyatakan bahwa gitar dengan bahan baku kayu Kelapa dan gitar produsen memiliki karakter yang tidak jauh berbeda satu sama lain. Resonansi dan natural dari gitar dengan bahan baku kayu Kelapa dan gitar produsen dapat dikategorikan dalam kualitas yang baik. Perbedaan yang didapatkan adalah perbedaan sustained dari gitar produsen yang sedikit lebih baik dari gitar dengan bahan baku kayu Kelapa dimana gitar dengan produsen memiliki kualitas sustained yang baik sedangkan gitar dengan bahan baku kayu Kelapa memiliki kualitas sustained sedang sampai baik.
Hasil pengujian dan penilaian terhadap kualitas suara yang dihasilkan oleh gitar dengan bahan baku kayu Kelapa dan gitar produsen dapat dilihat dengan lebih jelas pada diagram di bawah ini :

Gambar. Grafik Histogram Perbandingan Resonansi Antara Gitar Dengan Bahan Baku Kayu Kelapa dan Gitar Produsen.

Gambar. Grafik Histogram Perbandingan Sustained Antara Gitar Dengan Bahan Baku Kayu Kelapa dan Gitar Produsen.

Gambar. Grafik Histogram Perbandingan Sifat Natural Antara Gitar Dengan Bahan Baku Kayu Kelapa dan Gitar Produsen.

D. Hasil Pengujian Dengan Alat
1. Stop Watch dan Stetoskop
2. Sound Level Meter